Lewati ke konten utama
menjadi.dev
Chapter 10.1 Architecture Spesialisasi

Monolith vs Microservices

Kapan harus memecah aplikasi?

Tujuan Pembelajaran

  • Memahami perbedaan monolith dan microservices
  • Bisa menentukan kapan menggunakan microservices

Analogi

Diagram

      Monolith = Toko Serba Ada (1 bangunan besar)
Semua di satu tempat

Microservices = Pasar (banyak kios kecil)
Tiap kios fokus 1 produk
    

Microservices seperti pasar — tiap service independen dan fokus

Penjelasan Konsep

Monolith

Monolith adalah aplikasi yang seluruh fitur berjalan dalam satu codebase dan satu deployment unit. Semua modul saling terhubung dalam proses yang sama.

Microservices

Microservices memecah aplikasi menjadi service-service kecil yang independen. Tiap service punya database sendiri, bisa di-deploy terpisah, dan berkomunikasi via network.

Kapan pindah ke microservices?

  1. Tim engineering sudah > 50 orang.
  2. Deploy perlu dilakukan berkali-kali sehari.
  3. Satu fitur down mengakibatkan seluruh aplikasi down.
  4. Tech stack perlu bervariasi antar tim.

Inti yang Perlu Dipahami

Bagian ini berfokus pada memahami perbedaan monolith dan microservices., dan bisa menentukan kapan menggunakan microservices. Jangan terburu-buru menghafal istilahnya. Lebih penting untuk memahami peran setiap konsep dan kapan konsep itu muncul dalam pekerjaan web development.

Saat membaca Monolith vs Microservices, gunakan tujuan belajar sebagai penanda arah. Kalau kamu sudah bisa menjelaskan tujuan itu dengan kata-katamu sendiri, berarti fondasinya mulai terbentuk.

Cara Membayangkannya

Microservices seperti pasar — tiap service independen dan fokus. Analogi ini dipakai supaya konsep teknis tidak terasa melayang. Hubungkan setiap istilah dengan perannya: siapa yang meminta, siapa yang memproses, data apa yang berpindah, dan hasil apa yang diharapkan.

Kalau analoginya sudah terasa masuk akal, barulah lihat istilah teknisnya. Cara ini membuat materi lebih mudah dipahami daripada langsung menghafal definisi.

Saat Melihat Contoh Kode

Contoh kode pada chapter ini memakai bahasa typescript. Bacalah contoh kode sebagai ilustrasi alur, bukan sebagai bagian yang harus langsung dihafal. Monolith: satu repo, satu deploy. Microservices: banyak repo, deploy independen.

Perhatikan nama fungsi, urutan langkah, dan data yang berpindah. Biasanya tiga hal itu sudah cukup untuk memahami hubungan antara teori dan praktik.

Konteks dalam Perjalanan Belajar

Setiap konsep di platform ini dipilih karena dipakai di industri. Fokus pada pemahaman, bukan hafalan.

Kamu sudah di bagian lanjutan. Mulai pikirkan bagaimana konsep ini dipakai di dunia kerja — bukan hanya untuk belajar, tapi untuk membangun produk nyata.

Gunakan pertanyaan reflektif dan prompt AI di akhir chapter sebagai latihan aktif. Membaca saja tidak cukup — kamu perlu menjelaskan ulang dengan kata-katamu sendiri.

Contoh Kode

typescript
// MONOLITH
// Semua di satu repo
src/
  controllers/
  services/
  models/
  views/

// MICROSERVICES
// Tiap service repo terpisah
services/
  user-service/      # Node.js
  payment-service/   # Go
  notification/      # Python
  gateway/           # API Gateway

Penjelasan Kode

Monolith: satu repo, satu deploy. Microservices: banyak repo, deploy independen.

Prompt AI

Kapan sebaiknya pindah dari monolith ke microservices?

Pertanyaan Reflektif

List 3 kelebihan dan 3 kekurangan microservices dibanding monolith.