User Stories & Acceptance Criteria
Menulis cerita pengguna yang konkret, terukur, dan testable
Tujuan Pembelajaran
- Mampu menulis user stories berkualitas dengan format standard
- Mampu menulis acceptance criteria yang testable (Given-When-Then)
- Memahami perbedaan functional dan non-functional requirements
Analogi
User Story = Pesanan Pelanggan:
"Saya lapar" -> BURUK (pelayan asumsi nasi goreng -> bisa salah)
"Nasi goreng telur, pedas level 3, tanpa kecap, es teh manis" -> BAIK (pesanan jelas, bisa diverifikasi)
Acceptance Criteria = Quality Check:
"Pastikan telur matang", "Pedas level 3", "Tidak ada kecap"
User story adalah pesanan pelanggan. Acceptance criteria adalah quality check sebelum pesanan disajikan.
Penjelasan Konsep
User stories menerjemahkan kebutuhan user menjadi unit kerja yang bisa dieksekusi. Format: “Sebagai [persona], saya ingin [aksi], sehingga [manfaat]”.
INVEST Criteria: Independent, Negotiable, Valuable, Estimable, Small, Testable.
Acceptance Criteria format Given-When-Then: “Given [kondisi awal], When [aksi], Then [hasil]”. Contoh: Given user terdaftar, When masukkan email & password benar, Then diarahkan ke dashboard. Given password salah, When klik Login, Then tampil pesan error. Given 5x gagal dalam 10 menit, When coba ke-6, Then akun terkunci 15 menit.
Functional vs Non-Functional: Functional = APA (fitur login). Non-Functional = BAGAIMANA (halaman load <2 detik, mobile responsive, accessible).
Inti yang Perlu Dipahami
Bagian ini berfokus pada mampu menulis user stories berkualitas dengan format standard., mampu menulis acceptance criteria yang testable (Given-When-Then)., dan memahami perbedaan functional dan non-functional requirements. Jangan terburu-buru menghafal istilahnya. Lebih penting untuk memahami peran setiap konsep dan kapan konsep itu muncul dalam pekerjaan web development.
Saat membaca User Stories & Acceptance Criteria, gunakan tujuan belajar sebagai penanda arah. Kalau kamu sudah bisa menjelaskan tujuan itu dengan kata-katamu sendiri, berarti fondasinya mulai terbentuk.
Cara Membayangkannya
User story adalah pesanan pelanggan. Acceptance criteria adalah quality check sebelum pesanan disajikan. Analogi ini dipakai supaya konsep teknis tidak terasa melayang. Hubungkan setiap istilah dengan perannya: siapa yang meminta, siapa yang memproses, data apa yang berpindah, dan hasil apa yang diharapkan.
Kalau analoginya sudah terasa masuk akal, barulah lihat istilah teknisnya. Cara ini membuat materi lebih mudah dipahami daripada langsung menghafal definisi.
Konteks dalam Perjalanan Belajar
Setiap konsep di platform ini dipilih karena dipakai di industri. Fokus pada pemahaman, bukan hafalan.
Kamu sudah di bagian lanjutan. Mulai pikirkan bagaimana konsep ini dipakai di dunia kerja — bukan hanya untuk belajar, tapi untuk membangun produk nyata.
Gunakan pertanyaan reflektif dan prompt AI di akhir chapter sebagai latihan aktif. Membaca saja tidak cukup — kamu perlu menjelaskan ulang dengan kata-katamu sendiri.
Prompt AI
Tulis 5 user stories untuk 'AI meal planner'. Untuk setiap story, tulis 3 acceptance criteria Given-When-Then.
Pertanyaan Reflektif
Ambil satu fitur dari aplikasi favoritmu. Tulis user story + acceptance criteria. Apakah cukup spesifik sehingga developer/AI tidak perlu bertanya lagi?