Integration Test: Database dan API
Uji bagaimana bagian-bagian aplikasi bekerja sama
Tujuan Pembelajaran
- Bisa menulis integration test untuk database
- Mengerti test lifecycle (setup/teardown)
- Mengerti test database pattern
Analogi
Integration Test Scope:
Unit A + Unit B + Database
↓
Integration Test
Integration test menguji interaksi antar komponen — lebih realistis daripada unit test tapi lebih cepat daripada E2E
Penjelasan Konsep
Unit test mengisolasi satu fungsi. Integration test menguji bagaimana beberapa bagian bekerja sama. Di backend, integration test paling umum menguji: route handler + service + database.
Kenapa Integration Test Penting?
Unit test bisa passing 100% tapi aplikasi tetap rusak kalau bagian-bagian tidak terintegrasi dengan benar. Contoh: UserService.create() dan UserRepository.save() masing-masing berjalan benar, tapi UserService memanggil repository dengan argumen yang salah.
Integration test menangkap bug di boundary antar komponen.
Test Database Pattern
Strategi untuk test yang melibatkan database:
- In-Memory Database: SQLite:memory: untuk test cepat
- Test Container: Docker container dengan database nyata
- Test Schema: Schema terpisah di database yang sama
SQLite in-memory paling populer karena tidak perlu setup infrastruktur, cepat (data di memory), dan auto-cleanup.
Lifecycle Hooks
Vitest punya hooks untuk setup dan cleanup:
- beforeAll() — sekali sebelum semua test
- beforeEach() — sebelum setiap test
- afterEach() — setelah setiap test
- afterAll() — sekali setelah semua test
Pattern umum: setup DB di beforeAll,
Clear data di beforeEach, disconnect di afterAll.
Testing API dengan Hono
Hono punya helper app.request() untuk testing tanpa HTTP server nyata:
Inti yang Perlu Dipahami
Bagian ini berfokus pada bisa menulis integration test untuk database., mengerti test lifecycle (setup/teardown)., dan mengerti test database pattern. Jangan terburu-buru menghafal istilahnya. Lebih penting untuk memahami peran setiap konsep dan kapan konsep itu muncul dalam pekerjaan web development.
Saat membaca Integration Test, gunakan tujuan belajar sebagai penanda arah. Kalau kamu sudah bisa menjelaskan tujuan itu dengan kata-katamu sendiri, berarti fondasinya mulai terbentuk.
Cara Membayangkannya
Integration test menguji interaksi antar komponen — lebih realistis daripada unit test tapi lebih cepat daripada E2E. Analogi ini dipakai supaya konsep teknis tidak terasa melayang. Hubungkan setiap istilah dengan perannya: siapa yang meminta, siapa yang memproses, data apa yang berpindah, dan hasil apa yang diharapkan.
Kalau analoginya sudah terasa masuk akal, barulah lihat istilah teknisnya. Cara ini membuat materi lebih mudah dipahami daripada langsung menghafal definisi.
Saat Melihat Contoh Kode
Contoh kode pada chapter ini memakai bahasa typescript. Bacalah contoh kode sebagai ilustrasi alur, bukan sebagai bagian yang harus langsung dihafal. :memory: database = fresh database untuk setiap test run. beforeEach clear mencegah test pollution.
Perhatikan nama fungsi, urutan langkah, dan data yang berpindah. Biasanya tiga hal itu sudah cukup untuk memahami hubungan antara teori dan praktik.
Konteks dalam Perjalanan Belajar
Setiap konsep di platform ini dipilih karena dipakai di industri. Fokus pada pemahaman, bukan hafalan.
Kamu sudah di bagian lanjutan. Mulai pikirkan bagaimana konsep ini dipakai di dunia kerja — bukan hanya untuk belajar, tapi untuk membangun produk nyata.
Gunakan pertanyaan reflektif dan prompt AI di akhir chapter sebagai latihan aktif. Membaca saja tidak cukup — kamu perlu menjelaskan ulang dengan kata-katamu sendiri.
Contoh Kode
// Integration test: Route → Service → Database
import { describe, it, expect, beforeAll, beforeEach, afterAll } from 'vitest';
import { Database } from 'bun:sqlite';
import { drizzle } from 'drizzle-orm/bun-sqlite';
const sqlite = new Database(':memory:');
const db = drizzle(sqlite);
beforeAll(async () => {
await db.run(\`CREATE TABLE users (id INTEGER PRIMARY KEY, name TEXT, email TEXT)\`);
});
beforeEach(async () => {
await db.run(\`DELETE FROM users\`);
});
afterAll(() => sqlite.close());
describe('POST /api/users', () => {
it('creates user and returns 201', async () => {
const res = await app.request('/api/users', {
method: 'POST',
body: JSON.stringify({ name: 'Budi', email: 'budi@mail.com' }),
headers: { 'Content-Type': 'application/json' },
});
expect(res.status).toBe(201);
const body = await res.json();
expect(body.name).toBe('Budi');
});
it('returns 400 for invalid data', async () => {
const res = await app.request('/api/users', {
method: 'POST',
body: JSON.stringify({ name: '' }),
headers: { 'Content-Type': 'application/json' },
});
expect(res.status).toBe(400);
});
});Penjelasan Kode
Prompt AI
Tulis integration test untuk endpoint login: valid credentials, invalid password, non-existent user.
Pertanyaan Reflektif
Integration test lebih lambat dari unit test. Berapa lama test suite-mu? Kalau > 30 detik, pertimbangkan mana yang bisa di-downgrade ke unit test.